Senin, 28 Maret 2011

Republik Krisis Petuah

Rencana pemerintah menaikan gaji 8.000 pejabat negara baik wakil rakyat, kepala daerah termasuk presiden terus menggelinding.  Berawal dari pernyataan  Presiden SBY yang selama tujuh tahun terakhir gajinya tidak naik, sementara di sisi lain tiap tahun perbaikan kesejahteraan PNS dan TNI-Polri dilakukan dengan kebijakan kenaikan gaji dan remunerasi, pemerintah seolah menemukan argumentasi ampuh bahwa saat inilah giliran pejabat negara untuk naik gaji.  Tak urung rencana tak popular ini membuat public resah dan terusik di tengah berita dan tangis kemiskinan rakyat. Paling tidak sensitivitas publik Soloraya terhadap isu ini terekam dan menempati peringkat kedua atau 16,16% sebagai sorotan  persoalan yang dikeluhkan dalam seminggu terakhir (LITBANG SOLOPOS, Rabu 16/02/2011).
Kalau dulu para pejuang dan pemimpin bangsa berkorban mengikhlaskan jiwa raga dan hartanya demi kemerdekaan sebuah negeri yang terjajah, namun  para pejabat saat ini justeru mengorbankan  rasa malu dan berjuang memupuk kekayaan dan mempertahankan kekuasaan dengan cara apa pun demi kesejahteraan dan kemakmuran pribadi.  Petuah luhur tak lagi menarik didengar. Mutiara pahlawan yang pernah kita dengar “ Jangan tanyakan apa yang  diberikan negara kepadamu, tapi tanyakan apa yang telah kau berikan untuk negaramu ” kian memudar terbang dibawa angin, tak lagi bersemayam di lubuk hati para pejabat kita. Petuah-petuah itu  tak lagi dihiraukan bahkan dicampakan ke tong sampah.    
Kemakmuran Untuk Siapa
Rencana kenaikan gaji di awal tahun ini menjadi kado manis bagi pejabat negara, tapi dirasakan menyesakan bagi rakyat.  Kuatnya resistensi public bukan tanpa alasan.  Ketika berita tangis 31 juta rakyat miskin masih nyaring terdengar, jutaan  pengangguran mengantri pekerjaan, rendahnya daya beli warga kerena inflasi yang 6,94 persen, biaya pendidikan mahal, kemiskinan massal di daerah pasca bencana, namun di saat yang sama pemerintah menginginkan gaji pejabat naik.  Kondisi ini sangat kontras.  Pemerintah menyejahterakan para pejabatnya yang sungguh tidak ada yang melarat di negeri ini, tapi seakan lupa tugas dan tanggung jawabnya  menyejahterakan  31 juta warga yang sengsara di republik ini karena dibelit kemiskinan akut.

Menjaga Warisan Budaya Lurik

Kebijakan Pemprov  yang menganjurkan pemakaian seragam lurik bagi PNS di lingkungan Kabupaten /Kota se-Jawa Tengah sepertinya berbuah manis.  Booming  pemakaian lurik oleh perangkat daerah diindikasikan dengan peningkatan permintaan  lurik sangat dirasakan oleh pengusaha lurik di Solo, Tegal, Jepara, Pekalongan, Yogyakarta tak luput Klaten sebagai daerah pionier.  Akankah lurik Jawa Tengah mampu bangkit dan disejajarkan dengan pamor batik sebagai warisan budaya?
Sesungguhnya keindahan kain lurik tak kalah mentereng dibandingkan dengan batik.  Sebagai hasil produksi lokal  yang lekat dengan corak kehidupan Jawa, tentu masyarakat Jateng akan bangga  jika kain lurik ini diangkat sebagai warisan budaya (culture heritage) dan menjadi simbol kebanggaan daerah di tengah membanjirnya produk asing khususnya tekstil. Kalau kain batik  telah menasional, bahkan ditetapkan UNESCO sebagai warisan dunia (world heritage), kita berharap kain lurik menyusul sebagaimana pamor batik sehingga pantas sebagai komoditi andalan  Jawa Tengah.
Dari sisi ekonomi pun, bisnis lurik menjadi peluang usaha menggiurkan karena pangsa pasarnya sangat terbuka.  Bagi pengusaha, besarnya permintaan lurik tidak saja disokong dari kalangan PNS sebagai dampak kebijakan gubernur saja, tapi juga dukungan dunia  swasta yang menganjurkan karyawannya berseragam lurik sehingga kain tenun ini makin akrab dikenakan masyarakat. Belum lagi andaikan kain lurik benar-benar menjelajah sebagai komoditi nasional dan mampu mencuri perhatian dunia, tak mustahil bisnis kain lurik  kian ”seksi” sebagai alternatif  usaha.
Optimisme itu sangat wajar karena lurik memiliki ciri khas dengan keunggulannya yang unik.  Lurik yang dirajut helai demi helai benang  dengan alat tenun ogklek dari kayu dan bambu seolah mendemontrasikan nilai ketradisionalan  yang sulit ditemukan di era modern. Menenun lurik tak ubahnya karya seni  yang tak hanya menguras energi, waktu dan kesabaran tapi juga melibatkan sentuhan emosi tangan-tangan pengerajinnya diantara harmonisasi keindahan tenun ogklek yang menghadirkan berjuta kekaguman.
Kekuatan lurik yang lain adalah pamor motifnya tegas bergaris membedakan dengan batik yang harus dilukis oleh para pembatik tradisional.  Sentuhan  goresan para pembantik tradisonal menggunakan  canthing  dan bermaterikan malam (cairan untuk menggores) mengusung motif satwa dan fauna dalam paduan improvisasi bergaya alam.  Sedangkan lurik hadir khas dengan pola bergaris walau unsur etnik sering kali muncul.  Modifikasi motif lurik oleh pengerajin tradisional dengan paduan sentuhan batik pun menjadikan lurik  tampil baru lebih variatif tanpa mengurangi karakter aslinya.  Maka muncullah motif seperti lurik hujan gerimis, hijau lumut motif batik flora fauna dengan variasi mega mendung dan parang atau model lain yang banyak diminati seperti  lurik dom nlusup, merang kecer atau yuyu sekandang.

Nasib lurik ATBM
            Di tengah bergairahnya industri lurik Jawa Tengah, nasib kurang mujur justeru dialami para pengerajin lurik tradisional yang menghasilkan lurik ATBM (alat tenun bukan mesin), khususnya di Klaten yang notabene daerah pionier lurik.  Lurik ATBM pengerajin Klaten kalah bersaing dengan lurik pabrikan.  Selain tampil lebih modis, warna yang cerah memikat dan halus, lurik pabrikan  hadir menyerbu pasar dengan harga miring dan  kualitas bersaing. Kelebihan kompetitif didorong oleh efisiensi dan percepatan produksi memungkinkan lurik pabrikan dihasilkan secara massal sehingga pasokan pasar melimpah. Mengusung bandrol harga ”bersahabat” tak heran jika konsumen beralih dari lurik ATBM dan melirik lurik pabrikan.
            Namun apakah efek pasar perkembangan lurik itu harus menyebabkan lurik ATMB gulung tikar ? Untuk mengangkat pamor lurik ATBM agar lebih marketable sebagai antisipasi trend pasar lurik saat ini, solusi yang dapat ditempuh pengerajin atau pengusaha lurik adalah segmentasi pasar.  Tidak mungkin lurik ATBM harus banting harga karena besaran biaya produksi (total cost) yang  sulit ditekan.  Segmentasi pasar menjadi pilihan membidik pangsa pasar tersendiri dengan harga khusus didukung jaminan kualitas yang terjaga.  Tentunya segmentasi pasar harus didukung branding produk bahwa lurik ATBM menjual kualitas tidak semata kuantitas.  Menjaga kualitas lurik adalah menjaga keberlangsungan usaha.  Kemampuan mempertahankan kualitas akan menjadi kunci kesetiaan dan loyalitas konsumen terhadap lurik sehingga kontinuitas produksi terjaga.
            Solusi kedua adalah inovasi produk didukung kreatifitas yang menghasilkan deferensiasi produk sebagai alternatif pilihan konsumen terhadap permintaan produk  lurik. Dukungan pemerintah daerah tak kalah penting dengan keberpihakan modal, pemasaran atau kebijakan  guna mendorong keberlangsungan usaha lurik.  Kesungguhan dan pembuktian itu saat ini sangat dibutuhkan.

Ekonomi Dalam Sepiring Nasi

Kita percaya semua manusia memiliki batas hidup yang disebut ajal.  Kapan datang, bagaimana caranya dan di mana ajal itu akan tiba menjemput menjadi rahasia Tuhan dimana tak kuasa satu pun manusia mampu menjamahnya.  Namun berita ajal yang menjemput enam warga Desa Jebol, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, keluarga malang yang terpaksa menyantap tiwul, ampas ketela pohon yang diduga beracun hanya karena tak mampu membeli beras beberapa waktu lalu (SM, 4/1/11) sungguh membuat kita prihatin.  Fakta ini menyeruak menambah daftar  panjang kisah pahit manusia tak beruntung di tengah hiruk pikuk modernisasi pembangunan dan kemewahan manusia lainnya.
Tak bisa dibayangkan perasaan pedih seperti apa yang menggelayuti hati pasangan keluarga  Jamhamid (45) dan Siti Sunayah (41) ketika harus kehilangan enam dari tujuh anaknya yang rata-rata masih belia. Untung tak dapat diraih, hanya naas yang bisa diratapi.  Enam nyawa berujung maut setelah menyantap tiwul, yang diduga mengandung asam sianida (HCN), racun berbahaya, hanya sebab harga beras yang membumbung. Kemiskinan telah mengantarkan Lutfiana (24) anak sulung, Abdul Halim (3), Ahmad Kusriyanto (5), dan Muhammad Hisyam Ali (13) satu per satu meregang nyawa.  Selang sehari berikutnya anggota keluarga yang lain Waridatus Solehah (15) dan Saidatul Kusniah (8) akhirnya menyusul saudara kandungnya yang lain juga gara-gara makanan yang sama.
Fakta ini menjadi salah satu  fenomena gunung es dari wajah kemiskinan kita.  Sebuah negeri yang dipuja – puji sebagai bumi yang kaya raya, gemah ripah loh jinawi.  Negeri yang bertanah subur, kekayaan alam melimpah ruah, belum lagi aneka hayati darat dan laut laksana untaian jamrud katulistiwa.  Namun untaian sanjungan dan harapan itu kini kian luntur oleh berita getir nasib anak bangsa yang kesulitan  sekedar makan sesuap nasi.

Pertumbuhan berkualitas
Tiwul maut yang telah mengantarkan enam nyawa seolah antithesa dari klain keberhasilan pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2010 dikatakan cukup optimis dan menggembirakan.  Stabilitas makro ekonomi dengan nilai tukar rupiah yang relatif dikisaran Rp 9.000-an, pertumbuhan ekononi di angka 6-6,4 persen, BI rate bertahan 6,5 persen dalam 16 bulan terakhir, neraca pembayaran 2010 yang diperkirakan surplus 27,4 milliar dan cadangan devisa sebesar 92,759 milliar dollar AS (Kompas, 3/1) adalah capaian yang patut diapresiasi.
Namun di sisi lain, pemerintah juga harus jujur bahwa kebijakan ekonomi yang diambil tak juga mampu mengerem laju inflasi yang kenyataanya lepas dari target yang dibidik yaitu angka  5,3 persen.  Laju inflasi Januari-Desember 2010 seperti diungkapkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Rusman Heriawan (3/1) meleset dari asumsi pemerintah, bahkan melesat di angka 6,96 persen.  Parahnya, besaran inflasi itu disokong oleh kenaikan harga bahan pokok tahun ini mencapai angka 15,6% dimana notabene adalah kebutuhan dasar masyarakat yang tak bisa ditunda untuk tidak dibeli karena berkaitan dengan urusan perut.
Melambungnya harga kebutuhan pokok terutama beras adalah pukulan telak bagi rakyat.  Lonjakan harga tersebut tentunya menyebabkan penurunan kualitas hidup masyarakat terkait dengan pemenuhan asupan gizi mimimal karena kekuatan daya beli terus digencet laju inflasi.  Ketidakberhasilan pemerintah menahan laju inflasi dikawatirkan mendorong peningkatan jumlah masyarakat miskin, mengingat melemahnya daya beli akibat harga-harga kebutuhan pokok yang melambung.
Maka perekonomian ke depan yang diprediksikan berada dalam tahapan ekspansi hingga tahun 2016 harus dibarengi pemerintah dengan capaian pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.  Keberhasilan makro ekonomi harus mampu dibreak-down lebih membumi dan berdampak ke sektor-sektor riel, sehingga ekonomi masyarakat menjadi lebih menggeliat.  Perekonomian kita dalam kurun waktu 1999-2009 tidak ditemukan perubahan yang signifikan dalam perubahan struktur penduduk di Indonesia.  Penduduk miskin tetap menjadi golongan mayoritas.   Hasil Sensus Penduduk 2010 masih menempatkan kelompok miskin berada di angka  13 persen atau kisaran 30-an juta jiwa.  Ke depan pembangunan ekonomi itu tidak boleh lagi meninggalkan kaum bawah.  Sementara mengkomparasikan ekspansi China di tahun 1995 – 2007 telah mengangkat kaum miskin pedesaaan menjadi golongan menengah.  Artinya keberhasilan pembangunan ekonomi di China mampu mengangkat jumlah warga miskin ke golongan menengah dari angka 600.000.000 jiwa warga miskin menjadi tinggal hanya 80.500.000 jiwa dari sekitar 1,3 milliar penduduknya.

Lingkaran setan.
Mengurai benang kusut kemiskinan, Sharp (1996) mengidentifikasi penyebab kemiskinan karena tiga faktor utama.  Pertama, adanya ketidaksamaan kepemilikan sumber daya; kedua, adanya perbedaan kualitas sumber daya manusia dan ketiga adanya perbedaan akses dalam permodalan.  Ketiga faktor penyebab ini yang lalu dikenal dengan lingkaran setan kemiskinan (vicious circle of poverty).  Adanya keterbelakangan, ketidaksempurnaan dan keterbatasan modal berdampak pada produktifitas yang rendah.  Rendahnya produktifitas menyebabkan rendahnya tingkat pendapatan dan membatasi kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan (budget line).
Masuknya modal asing salah satunya akibat krisis yang dialami Amerika saat ini dan beralih ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia harus dimanfaatkan sebagai peluang.  Investasi ke depan diarahkan bagi sektor-sektor yang didalamnya mampu menyerap tenaga kerja.  Harapannya semakin banyak orang bekerja, meningkat produktifitasnya, sehingga ada pergerakan arus uang sebagai  pendapatan masyarakat.
Wong cilik tidak ambil pusing tentang besaran cadangan devisa, laju inflasi, suku bunga BI atau nilai tukar rupiah sebagai indikator stabilitas makro ekonomi.  Bahasa ekonomi wong cilik adalah bagaimana mereka  dapat bekerja, pulang membeli beras untuk anak istrinya bisa makan.  Ekonomi itu tidak muluk-muluk.  Ekonomi itu adalah sepiring nasi yang mereka santap hari ini, beruntung bisa untuk hari esok.