Kita percaya semua manusia memiliki batas hidup yang disebut ajal. Kapan datang, bagaimana caranya dan di mana ajal itu akan tiba menjemput menjadi rahasia Tuhan dimana tak kuasa satu pun manusia mampu menjamahnya. Namun berita ajal yang menjemput enam warga Desa Jebol, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, keluarga malang yang terpaksa menyantap tiwul, ampas ketela pohon yang diduga beracun hanya karena tak mampu membeli beras beberapa waktu lalu (SM, 4/1/11) sungguh membuat kita prihatin. Fakta ini menyeruak menambah daftar panjang kisah pahit manusia tak beruntung di tengah hiruk pikuk modernisasi pembangunan dan kemewahan manusia lainnya.
Tak bisa dibayangkan perasaan pedih seperti apa yang menggelayuti hati pasangan keluarga Jamhamid (45) dan Siti Sunayah (41) ketika harus kehilangan enam dari tujuh anaknya yang rata-rata masih belia. Untung tak dapat diraih, hanya naas yang bisa diratapi. Enam nyawa berujung maut setelah menyantap tiwul, yang diduga mengandung asam sianida (HCN), racun berbahaya, hanya sebab harga beras yang membumbung. Kemiskinan telah mengantarkan Lutfiana (24) anak sulung, Abdul Halim (3), Ahmad Kusriyanto (5), dan Muhammad Hisyam Ali (13) satu per satu meregang nyawa. Selang sehari berikutnya anggota keluarga yang lain Waridatus Solehah (15) dan Saidatul Kusniah (8) akhirnya menyusul saudara kandungnya yang lain juga gara-gara makanan yang sama.
Fakta ini menjadi salah satu fenomena gunung es dari wajah kemiskinan kita. Sebuah negeri yang dipuja – puji sebagai bumi yang kaya raya, gemah ripah loh jinawi. Negeri yang bertanah subur, kekayaan alam melimpah ruah, belum lagi aneka hayati darat dan laut laksana untaian jamrud katulistiwa. Namun untaian sanjungan dan harapan itu kini kian luntur oleh berita getir nasib anak bangsa yang kesulitan sekedar makan sesuap nasi.
Pertumbuhan berkualitas
Tiwul maut yang telah mengantarkan enam nyawa seolah antithesa dari klain keberhasilan pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2010 dikatakan cukup optimis dan menggembirakan. Stabilitas makro ekonomi dengan nilai tukar rupiah yang relatif dikisaran Rp 9.000-an, pertumbuhan ekononi di angka 6-6,4 persen, BI rate bertahan 6,5 persen dalam 16 bulan terakhir, neraca pembayaran 2010 yang diperkirakan surplus 27,4 milliar dan cadangan devisa sebesar 92,759 milliar dollar AS (Kompas, 3/1) adalah capaian yang patut diapresiasi.
Namun di sisi lain, pemerintah juga harus jujur bahwa kebijakan ekonomi yang diambil tak juga mampu mengerem laju inflasi yang kenyataanya lepas dari target yang dibidik yaitu angka 5,3 persen. Laju inflasi Januari-Desember 2010 seperti diungkapkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Rusman Heriawan (3/1) meleset dari asumsi pemerintah, bahkan melesat di angka 6,96 persen. Parahnya, besaran inflasi itu disokong oleh kenaikan harga bahan pokok tahun ini mencapai angka 15,6% dimana notabene adalah kebutuhan dasar masyarakat yang tak bisa ditunda untuk tidak dibeli karena berkaitan dengan urusan perut.
Melambungnya harga kebutuhan pokok terutama beras adalah pukulan telak bagi rakyat. Lonjakan harga tersebut tentunya menyebabkan penurunan kualitas hidup masyarakat terkait dengan pemenuhan asupan gizi mimimal karena kekuatan daya beli terus digencet laju inflasi. Ketidakberhasilan pemerintah menahan laju inflasi dikawatirkan mendorong peningkatan jumlah masyarakat miskin, mengingat melemahnya daya beli akibat harga-harga kebutuhan pokok yang melambung.
Maka perekonomian ke depan yang diprediksikan berada dalam tahapan ekspansi hingga tahun 2016 harus dibarengi pemerintah dengan capaian pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Keberhasilan makro ekonomi harus mampu dibreak-down lebih membumi dan berdampak ke sektor-sektor riel, sehingga ekonomi masyarakat menjadi lebih menggeliat. Perekonomian kita dalam kurun waktu 1999-2009 tidak ditemukan perubahan yang signifikan dalam perubahan struktur penduduk di Indonesia. Penduduk miskin tetap menjadi golongan mayoritas. Hasil Sensus Penduduk 2010 masih menempatkan kelompok miskin berada di angka 13 persen atau kisaran 30-an juta jiwa. Ke depan pembangunan ekonomi itu tidak boleh lagi meninggalkan kaum bawah. Sementara mengkomparasikan ekspansi China di tahun 1995 – 2007 telah mengangkat kaum miskin pedesaaan menjadi golongan menengah. Artinya keberhasilan pembangunan ekonomi di China mampu mengangkat jumlah warga miskin ke golongan menengah dari angka 600.000.000 jiwa warga miskin menjadi tinggal hanya 80.500.000 jiwa dari sekitar 1,3 milliar penduduknya.
Lingkaran setan.
Mengurai benang kusut kemiskinan, Sharp (1996) mengidentifikasi penyebab kemiskinan karena tiga faktor utama. Pertama, adanya ketidaksamaan kepemilikan sumber daya; kedua, adanya perbedaan kualitas sumber daya manusia dan ketiga adanya perbedaan akses dalam permodalan. Ketiga faktor penyebab ini yang lalu dikenal dengan lingkaran setan kemiskinan (vicious circle of poverty). Adanya keterbelakangan, ketidaksempurnaan dan keterbatasan modal berdampak pada produktifitas yang rendah. Rendahnya produktifitas menyebabkan rendahnya tingkat pendapatan dan membatasi kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan (budget line).
Masuknya modal asing salah satunya akibat krisis yang dialami Amerika saat ini dan beralih ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia harus dimanfaatkan sebagai peluang. Investasi ke depan diarahkan bagi sektor-sektor yang didalamnya mampu menyerap tenaga kerja. Harapannya semakin banyak orang bekerja, meningkat produktifitasnya, sehingga ada pergerakan arus uang sebagai pendapatan masyarakat.
Wong cilik tidak ambil pusing tentang besaran cadangan devisa, laju inflasi, suku bunga BI atau nilai tukar rupiah sebagai indikator stabilitas makro ekonomi. Bahasa ekonomi wong cilik adalah bagaimana mereka dapat bekerja, pulang membeli beras untuk anak istrinya bisa makan. Ekonomi itu tidak muluk-muluk. Ekonomi itu adalah sepiring nasi yang mereka santap hari ini, beruntung bisa untuk hari esok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar