Senin, 28 Maret 2011

Menjaga Warisan Budaya Lurik

Kebijakan Pemprov  yang menganjurkan pemakaian seragam lurik bagi PNS di lingkungan Kabupaten /Kota se-Jawa Tengah sepertinya berbuah manis.  Booming  pemakaian lurik oleh perangkat daerah diindikasikan dengan peningkatan permintaan  lurik sangat dirasakan oleh pengusaha lurik di Solo, Tegal, Jepara, Pekalongan, Yogyakarta tak luput Klaten sebagai daerah pionier.  Akankah lurik Jawa Tengah mampu bangkit dan disejajarkan dengan pamor batik sebagai warisan budaya?
Sesungguhnya keindahan kain lurik tak kalah mentereng dibandingkan dengan batik.  Sebagai hasil produksi lokal  yang lekat dengan corak kehidupan Jawa, tentu masyarakat Jateng akan bangga  jika kain lurik ini diangkat sebagai warisan budaya (culture heritage) dan menjadi simbol kebanggaan daerah di tengah membanjirnya produk asing khususnya tekstil. Kalau kain batik  telah menasional, bahkan ditetapkan UNESCO sebagai warisan dunia (world heritage), kita berharap kain lurik menyusul sebagaimana pamor batik sehingga pantas sebagai komoditi andalan  Jawa Tengah.
Dari sisi ekonomi pun, bisnis lurik menjadi peluang usaha menggiurkan karena pangsa pasarnya sangat terbuka.  Bagi pengusaha, besarnya permintaan lurik tidak saja disokong dari kalangan PNS sebagai dampak kebijakan gubernur saja, tapi juga dukungan dunia  swasta yang menganjurkan karyawannya berseragam lurik sehingga kain tenun ini makin akrab dikenakan masyarakat. Belum lagi andaikan kain lurik benar-benar menjelajah sebagai komoditi nasional dan mampu mencuri perhatian dunia, tak mustahil bisnis kain lurik  kian ”seksi” sebagai alternatif  usaha.
Optimisme itu sangat wajar karena lurik memiliki ciri khas dengan keunggulannya yang unik.  Lurik yang dirajut helai demi helai benang  dengan alat tenun ogklek dari kayu dan bambu seolah mendemontrasikan nilai ketradisionalan  yang sulit ditemukan di era modern. Menenun lurik tak ubahnya karya seni  yang tak hanya menguras energi, waktu dan kesabaran tapi juga melibatkan sentuhan emosi tangan-tangan pengerajinnya diantara harmonisasi keindahan tenun ogklek yang menghadirkan berjuta kekaguman.
Kekuatan lurik yang lain adalah pamor motifnya tegas bergaris membedakan dengan batik yang harus dilukis oleh para pembatik tradisional.  Sentuhan  goresan para pembantik tradisonal menggunakan  canthing  dan bermaterikan malam (cairan untuk menggores) mengusung motif satwa dan fauna dalam paduan improvisasi bergaya alam.  Sedangkan lurik hadir khas dengan pola bergaris walau unsur etnik sering kali muncul.  Modifikasi motif lurik oleh pengerajin tradisional dengan paduan sentuhan batik pun menjadikan lurik  tampil baru lebih variatif tanpa mengurangi karakter aslinya.  Maka muncullah motif seperti lurik hujan gerimis, hijau lumut motif batik flora fauna dengan variasi mega mendung dan parang atau model lain yang banyak diminati seperti  lurik dom nlusup, merang kecer atau yuyu sekandang.

Nasib lurik ATBM
            Di tengah bergairahnya industri lurik Jawa Tengah, nasib kurang mujur justeru dialami para pengerajin lurik tradisional yang menghasilkan lurik ATBM (alat tenun bukan mesin), khususnya di Klaten yang notabene daerah pionier lurik.  Lurik ATBM pengerajin Klaten kalah bersaing dengan lurik pabrikan.  Selain tampil lebih modis, warna yang cerah memikat dan halus, lurik pabrikan  hadir menyerbu pasar dengan harga miring dan  kualitas bersaing. Kelebihan kompetitif didorong oleh efisiensi dan percepatan produksi memungkinkan lurik pabrikan dihasilkan secara massal sehingga pasokan pasar melimpah. Mengusung bandrol harga ”bersahabat” tak heran jika konsumen beralih dari lurik ATBM dan melirik lurik pabrikan.
            Namun apakah efek pasar perkembangan lurik itu harus menyebabkan lurik ATMB gulung tikar ? Untuk mengangkat pamor lurik ATBM agar lebih marketable sebagai antisipasi trend pasar lurik saat ini, solusi yang dapat ditempuh pengerajin atau pengusaha lurik adalah segmentasi pasar.  Tidak mungkin lurik ATBM harus banting harga karena besaran biaya produksi (total cost) yang  sulit ditekan.  Segmentasi pasar menjadi pilihan membidik pangsa pasar tersendiri dengan harga khusus didukung jaminan kualitas yang terjaga.  Tentunya segmentasi pasar harus didukung branding produk bahwa lurik ATBM menjual kualitas tidak semata kuantitas.  Menjaga kualitas lurik adalah menjaga keberlangsungan usaha.  Kemampuan mempertahankan kualitas akan menjadi kunci kesetiaan dan loyalitas konsumen terhadap lurik sehingga kontinuitas produksi terjaga.
            Solusi kedua adalah inovasi produk didukung kreatifitas yang menghasilkan deferensiasi produk sebagai alternatif pilihan konsumen terhadap permintaan produk  lurik. Dukungan pemerintah daerah tak kalah penting dengan keberpihakan modal, pemasaran atau kebijakan  guna mendorong keberlangsungan usaha lurik.  Kesungguhan dan pembuktian itu saat ini sangat dibutuhkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar