Minggu, 03 April 2011

Mas Narno Menyongsong Sang Fajar


LIMA TAHUN JEJAK LANGKAHKU
Oleh Joko Priyono

Masa kepemimpinan Bupati Klaten H. Sunarno SE., M.Hum tak terasa telah memasuki tahun kelima.  Rentang masa yang cukup bagi ayah empat anak ini memberi bukti dengan torehan prestasi sebagai pemimpin muda membawa Kabupaten Klaten yang lebih maju dan berkembang dengan program-program pembangunan yang dinamis dan berkelanjutan.
 Sunarno muda yang dilantik 2 Desember 2005 keluar sebagai pemenang dalam Pilkada pertama dalam demokrasi  pemilihan secara langsung.  Usianya yang muda tak menghalangi suami dari Sri Mulyani ini untuk memimpin Kabupaten Klaten hingga 2010 nanti.  Ketabahan, kerja keras dan semangat juang yang diturunkan dari orang tuanya telah mengantar Mas Narno, demikian lelaki muda ini akrab disapa,  di usia ke 32 tahun, mampu meraih puncak karier politik yang bakal dicatat sepanjang pemerintahan Kabupaten Klaten. Fenomena politik ini menempatkan pria lulusan Universitas Borobudur Jakarta tahun 1997 itu memecahkan rekor MURI sebagai bupati termuda seluruh tanah air.




Sunarno SE.,M.Hum bercita-cita mewujudkan masyarakat Klaten yang tata, titi, tentrem, kertaraharja sebagai visi perjuangan pembangunannya.  Wareg, waras,  wasis, wutuh dan wisma menjadi indikator pembangunan yang ditempuh lima tahun masa kepemimpinan Sunarno muda.
Namun jalan tak selalu mulus dilalui.  Ujian dan tantangan  yang menghadang menjadikan Sunarno muda kian matang menjalani tugas pengabdian.
Belum genap setahun pemerintahannya, Bupati Sunarno diuji dengan tragedi kemanusian. Gempa bumi dengan kekuatan 6,9 skala richter mengguncang wilayah selatan Klaten, tepat di Sabtu pagi 27 Mei 2006. Sebanyak 1.062 jiwa meninggal dunia dan 18.127 jiwa luka berat dan ringan.  Gempa di Sabtu kelabu itu juga menghancurkan 29.909 rumah warga dan 161.902 rumah rusak berat dan ringan.  Lebih dari 622 fasilitas publik tidak berfungsi, 476 tempat ibadah rusak dan 10.500 km jalan rusak.
Dampak gempa meruntuhkan sendi-sendi dasar masyarakat Klaten.   Namun dengan kesungguhan, totalitas, dedikasi, etos kerja dan komitmen yang tinggi, pelan namun pasti, selangkah demi setapak kerja keras pemerintah itu kini telah membuahkan hasil yang dapat dinikmati masyarakat luas.




Tiga langkah strategis ditempuh Pemkab Klaten untuk mengatasi dampak gempa.  Pertama adalah tahap tanggap darurat.  Pemkab Klaten menempuh pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat korban gempa untuk menjaga keberlangsungan hidup seperti  pangan, obat-obatan, tenda dan sebagainya.  Kedua adalah tahap rehabilitasi.  Tahap ini meliputi pembangunan fasilitas-fasilitas publik yang menyangkut hajat hidup orang banyak.  Hal ini mendesak mengingat ketersedian dan kesiapan fasilitas publik berkaitan dengan aktifitas sosial masyarakat.  Bangunan fisik yang dibangun adalah pasar, sekolah, jembatan, puskesmas dan sebagainya.  Tahap ketiga adalah rekontruksi.  Usaha membangun kembali rumah-rumah yang roboh dan rusak yang secara psikologis dimaknai juga membangun semangat hidup, membangkitkan motivasi menyongsong harapan dan tidak menyerah terhadap cobaan.
Tidak berhenti di situ saja, Pemkab Klaten bersama kepemimpinan H. Sunarno SE.M.Hum terus berkarya mengejar ketinggalan. Strategi dan prioritas ditetapkan dengan sasaran nyata dan dapat dinikmati rakyat.






 Pembangunan sarana prasarana jalan menjadi orientasi utama diawal pemerintahannya bahkan secara konsisten dijalankan hingga saat ini.  Selama masa kepemimpinan H.Sunarno SE.,M.Hum telah dibangun dan diperbaiki jalan sepanjang 777 Km dengan rata-rata kualitas hotmic.  Pembangunan fisik lainnya diwujudkan dengan pembangunan sejumlah jembatan dan bendungan sebagai sarana pendukung utama pembangunan sektor pertanian guna meningkatkan produksi pertanian khususnya beras sebagai produk andalan.
Tak disangsikan lagi bahwa Klaten sebagai salah satu sentra produksi beras,  bahkan sebagai salah satu penyangga  beras nasional.  Dengan lahan pertanian seluas 33.345 hektar, Klaten mampu memproduksi beras 336.122 ton gabah kering giling di tahun 2008. Prestasi ini mampu bertahan bahkan cenderung meningkat dari tahun ke tahun dengan rata-rata peningkatan 3,78% per tahun.
Selain dikenal sebagai sentra produksi beras, Klaten juga dikenal penghasil ikan air tawar kualitas baik.  Jenis nila, lele, bawal maupun gurameh mampu memsuplai kebutuhan wilayah sekitar baik Solo, Yogyakarta, Magelang bahkan sampai ke Jakarta.  Dengan luas baku usaha perikanan 73,70 hektar, Kabupaten Klaten mampu menghasilkan 3.926 ton per tahun ikan segar yang sebagian masyarakat dikembangkan secara kreatif untuk membangun wisata kuliner baik yang berkembang di Janti Polanharjo, maupun kompleks wisata Rowo Jombor, Bayat.
Sumber air  Umbul Ngingas menjadi modal alam penyokong sektor pertanian, perikanan  dan wisata air di Klaten.  Air yang melimpah menjadi sarana pasokan air yang cukup penunjang irigasi, suplai air kolam dan pegembangan wisata pemandian yang tersebar di wilayah Klaten seperti pemandian Tirto Ngingas, Jolotundo, Umbul Cokro ataupun Sendang Srinongko di Kecamatan Ceper, Klaten.
Wisata budaya pun tak luput dari perhatian Bupati Klaten.  Bupati Sunarno  yang  juga gemar lagu-lagu Jawa ini secara konsisten menjaga warisan budaya seperti tradisi yaa qowiyu di kecamatan Jatinom, Syawalan ketupat di Bukit Sidogoro kompleks wisata Rowo Jombor, tak lupa warisan budaya kerajinan tradisional lurik.
Bak siraman air hujan ditengah kemarau yang kerontang, Surat Edaran Bupati Sunarno, SE.,M.Hum., Nomor 025/575/2008 pertengahan tahun lalu menyembulkan kembali asa ditengah dahaga.  Pemkab mewajibkan sekitar 17.000 PNS mengenakan kain lurik setiap Kamis dalam jam kerja.  Kehadiran industri tekstil pascamodernisasi dengan gelontoran pemodal besar kisaran tahun 1978 mengakibatkan tidak sedikit pengrajin alat tenun bukan mesin (ATBM)  gulung tikar.  Namun sejak keluarnya Surat Edaran Bupati Klaten tersebut menggairahkan para pengerajin lurik untuk bangkit berkarya menggeluti budaya lokal ini untuk terus bertahan di tengah arus modernisasi yang menghantam.
Sektor pendidikan pun mendapat perhatian khusus dari Bupati Klaten, H. Sunarno SE.M.Hum.  Sadar bahwa sektor pendidikan menjadi salah satu pilar utama pembangunan, segala upaya ditempuh salah satunya dengan penyedian sarana bangunan yang representatif.  Sejumlah  370 lokasi sekolah  direhab.  Bea siswa bagi anak didik tidak mampu di tahun ke tahun terus didorong.  Program pendidikan dasar 9 tahun secara konsisten diupayakan dengan pembiayaan gratis untuk meringankan pemenuhan pendidikan dasar bagi seluruh lapisan masyarakat.
Ibu Sri Mulyani sebagai pendamping setia Bupati Sunarno SE tak ketinggalan dalam kiprah pembangunannya mendampingi suami.  Selain aktif dalam kegiatan penggerak PKK guna mendorong kemajuan kaum wanita Klaten, Ibu Yani Sunarno, yang akrab disapa ini turut andil besar dalam mengembangkan kesehatan masyarakat Klaten khususnya kegiatan Pos Yandu, gerakan ASI ekslusif bagi bayi di kalangan ibu muda ataupun gerakan program KB.  Kiprah ini telah mengantarkan Tim Penggerak PKK Klaten di bawah kepemimpinan Ibu Yani Sunarno meraih peringkat II Tim Penggerak PKK terbaik tingkat Jawa Tengah di tahun 2008.  Puncak dari kiprah srikandi muda pendamping Sunarno SE ini berbuah manis.  Tim penggerak PKK Klaten menyambet juara I sebagai TP PKK terbaik tingkat Jawa Tengah di tahun 2009.

Lima tahun adalah masa yang singkat untuk memberikan karya dan pengabdian bagi Mas Narno untuk mengantarkan masyarakat Klaten menuju tatanan yang tata, titi, tentrem kertaraharja.  Kerja itu belum selesai.  Tapi sepenuh doa dan keringat itu adalah untuk rakyat Klaten semata.  Tiada manusia yang sempurna.  Karya dan pengabdian harus dijaga, dirawat dan secara konsisten dijaga keberlanjutannya.


Penulis Joko Priyono S.Sos.,
 Pranata  Kehumasan Pemkab Klaten.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar