Minggu, 03 April 2011

Rowo Jombor Riwayatmu kini


Rowo Jombor Riwayatmu Kini
Oleh Joko Priyono


Sedimentasi di Rowo Jombor yang ada di perbatasan Kecamatan Bayat dan Kalikotes dinilai sudah parah (SM,Senin 22 Maret 2010). Sebagai  kompleks wisata andalan, sentra produksi ikan dan sumber irigasi yang menghidupi ribuan warga Klaten, kondisi Rawa Jombor seperti ini sungguh ironis.

Rawa Jombor adalah kompleks wisata alam kebanggaan masyarakat Klaten.    Sebagai salah satu ikon wisata alam, rawa yang tepat berada di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat berjarak 5 km  arah  tenggara pusat kota Klaten saat ini harus mengalami sedimentasi hebat, kerusakan alam, penurunan debet  air serius yang tidak saja mengancam keseimbangan hayati namun juga keberlangsungan  warga yang mengantungkan hidupnya atas eksistensi Rowo Jombor itu sendiri. 
Semilir angin dan gemeriak air di sela-sela  deburan ombak menghempas tepian rawa  tak lagi terdengar.  Ikan-ikan kecil yang menari berkejaran di tepian rawa kini  menghilang entah kemana. Dulu sejauh mata memandang disuguhi  hamparan air nan biru dan  barisan perbukitan hijau  sehingga memberi daya pesona eksotis, menawarkan kesejukan dan keteduhan yang membuncahkan  keagungan  Sang Pencipta.  Sesekali nelayan mendayung Getheknya (perahu bambu di jajar dan diikatkan dengan tali) melaju mengambil  wuwu ( kepis perangkap ikan) yang dipasang di beberapa titik sebagai penghasilan tambahan warga sekitar yang sebagian besar petani dan buruh.
Sayang seribu sayang keindahan itu kini hanya tinggal kenangan.  Keindahan telaga alam yang kaya nilai historis itu kini  tinggal kenangan di alam bawah sadar masyarakat Klaten.  Kini Rowo Jombor banyak berubah.  Rowo Jombor  didera arus pendangkalan hampir di setiap sudut kawasan.  Bahkan sebagian sudutnya menjadi tanah lapang dan tegalan.  Air telaga tak sejernih dulu.  Sepanjang mata memandang hanya tonggak-tonggak bambu yang dipancang sepanjang tepian keramba yang bertebaran hampir di seluruh kawasan.  Belum lagi jutaan hamparan enceng gondok yang menutup permukaan kawasan melengkapi kerusakan yang terjadi.  Sebagai  kompleks wisata andalan, sentra produksi ikan dan sumber irigasi yang menghidupi ribuan warga Klaten, kondisi Rowo Jombor seperti ini sungguh ironis.  


Kepedulian
            Rowo Jombor memiliki luas 198 hektare.  Dikelilingi perbukitan hijau di sisi selatan, timur dan utara sesungguhnya Rowo Jombor mempunyai nilai jual wisata dengan pesona alamnya.  Maka wajar jika tempat ini  dikembangkan sebagai kawasan wisata andalan dengan memadukan keindahan alam, wisata air dan  dipadu dengan hasil olah tangan keramik teknik miring warga Bayat sebagai buah tangan para pengunjung.  Kawasan ini terasa lengkap karena kepenatan pengunjung dapat terobati dengan bersantai sambil menikmati lezatnya hidangan ikan segar asli rawa hasil tangan terampil koki – koki asli warga Krakitan dengan warung apung di tepian rawa.
            Namun sejak dibuka luas pemanfaatan Rowo Jombor untuk pengembangan keramba dan wisata apung di pertengahan 1990-an membawa banyak perubahan mendasar.  Pengaplingan keramba tak terkendalikan.  Tidak ada kawasan yang steril bagi budidaya ikan oleh masyarakat sekitar sehingga hampir sejauh mata memandang adalah tonggak-tonggak bambu dan tiang penyencang jaring.  Sisi regulasi lemah dalam  mengawal kebijakan kalau tidak  dikatakan nyaris tanpa batasan.
            Hasilnya pun  dapat dituai sekarang.  Sedimentasi mengancam  menyebabkan debet air menyusut dari tahun ke tahun seiring tingkat pengendapan, lebih-lebih di kala kemarau panjang.  Padahal aliran air Rowo Jombor ditunggu  ribuan petani yang tersebar di Kecamatan Kalikotes, Trucuk dan Cawas dengan lahan pertanian produktif seluas 1.609 hektare.  Saat ini tak lagi dijumpai  lomba perahu gethek atau lomba menangkap bebek di setiap tradisi Grebeg Kupat Syawalan yang digelar Pemkab Klaten dan masyarakat sekitar karena nyaris tidak ada lagi kawasan bebas enceng gondok dan tambak sebagai ajang lomba.
             Sungguh Rowo Jombor telah mengirim pesan.  Kini saatnya pemerintah dan masyarakat tergerak.  Tidak cukup lagi rasa keprihatinan karena Rowo Jombor membutuhkan penanganan, bukan keprihatinan semata.  Masyarakat dan  pemerintah tak harus tutup mata atas realitas fakta dan berdalih keterbatasan dana sebagai alasan klise yang mudah ditebak.  Yang dibutuhkan saat ini adalah komitmen dan keberpihakan pemerintah berupa aksi nyata untuk menyelematkan Rowo Jombor dari kerusakan. 
            Saat masyarakat dan pemerintah turun dalam gerakan massal membersihkan rawa.  Padat karya dapat ditempuh lagi.  Dengan biaya murah dan memberdayakan masyarakat sekitar. Pemerintah pun dapat memobilisasi jajarannya untuk bergerak bersama sebagai aksi massa secara berkelanjutan. 
            Kita mendambakan Rowo Jombor hidup lagi seperti dulu kala.  Rowo Jombor yang biru dikelilingi perbukitannya yang hijau dengan semilir dan deburan ombaknya yang memercik buih kesegaran dan kesejukan.  Jujur hati kita mendambakan impian indah tempo dulu hidup kembali di Rowo Jombor.

Joko Priyono S.Sos, Penulis adalah Pranata Kehumasan Pemkab Klaten.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar