Minggu, 03 April 2011

Menggiatkan Pasar Tradisonal


Meggeliatkan Pasar Tradisional
Oleh Joko Priyono

Pemerintah melalui Menteri Perdagangan Dr Mari Elka Pangestu giat merintis pasar percontohan dengan merenovasi pasar tradisional.  Pengembangan pasar tradisional di berbagai daerah salah satunya dimaksudkan guna membendung persaingan dengan pasar modern (SM, 30/03/2011).
Dalam kunjungan kerja yang didampingi Gubernur Jateng Bibit Waluyo dan Wabup Klaten Sri Hartini di Pasar Cokro Kembang, Klaten (Selasa, 29/3) Menperindag menyatakan komitmen pemerintah membangun ekonomi desa  dengan memberdayakan pasar-pasar tradisional.  Pemerintah menggelontorkan Rp 88 milyard untuk merenovasi 10 unit pasar tradisional di seluruh Indonesia.  Renovasi Pasar Cokro Kembang sendiri menelan dana Rp 9 milyard dan dirancang menjadi pasar tradisional terbaik sehingga layak sebagai pasar percontohan. Bangunan pasar di atas tanah seluas 8.928 m² itu bakal direnovasi dan dibangun 49 unit kios dan 34 unit los yang diperkirakan menampung 341 pedagang.  Tidak saja menata ulang fisik bangunan, renovasi  Pasar Cokro Kembang akan dilengkapi  fasilitas umum seperti lahan  parkir, MCK, TPA sampah dan taman, selain fasilitas pelelangan ikan, pasar burung dan ajang promosi produk unggulan daerah.
Fundamentalisme Pasar
Menjamurnya pasar modern seperti supermaket/minimarket di berbagai daerah bahkan merambah pelosok adalah bukti menggejalanya fundamentalisme pasar tak terbendung.  George Soros (1998) sebagai orang pertama memperkenalkan istilah sebagai pengganti laissez faire ini, memaknai fundamentalisme pasar sebagai segala upaya untuk melindungi kepentingan bersama dengan keputusan kolektif hanya untuk mendistorsi pasar (Sumekto Aji, 2010).  Pengusaha dengan kekuatan modalnya ditopang efesiensi dan korporasi bisnis sehingga leluasa mengintervensi pasar dan mengatur harga yang mustahil dilakukan pengusaha bermodal terbatas.
Ketika pasar modern bejibun susul menyusul bak cendawan dan menggusur pelaku usaha kecil, menyebabkan eksistensi pasar tradisonal kian meredup, kehilangan daya tarik dan  ditinggalkan konsumen.  Lemah dan tiadanya aturan pengawasan serta pemihakan kaum lemah oleh  pemerintah disinyalir menjadi biang keladi.  Dipastikan dengan modal cekak, omset produk kecil dan konsumen terbatas, pedagang kecil sulit beradu saing dengan kapitalis bermodal. 
Maka pemihakan pasar tradisional oleh pemerintah menjadi angin segar yang ditunggu-tunggu. Revitasiliasi pasar tradisional adalah terobosan memantik potensi ekonomi pedesaan yang lazim tersendat. Langkah ini perlu disambut baik, walau start-nya dinilai terlambat. 
Efek ganda
            Minimal ada tiga potensi yang dapat diselaraskan dari pemberdayaan pasar tradisonal.  Pertama, sebagai akselerasi pengentasan kemiskinan pedesaan.  Walaupun bukan variabel tunggal, pembangunan pasar tradisional di daerah mampu menjadi pengungkit gairah ekonomi desa yang ditandai dengan terbukanya peluang usaha, peningkatan produktifitas dan lancarannya pasokan produk sehingga berkorelasi perbaikan pendapatan warga setempat.  Menengok data kemiskinan dua dasawarsa terakhir terjadi pergeseran konsentrasi kantong kemiskinan dari perkotaan ke pedesaaan. Menurut BPS, angka kemiskinan di pedesaan tahun 2010 tercatat 16,56% melampaui  tingkat kemiskinan nasional yang 13,3%.  Sementara angka kemiskinan di perkotaan hanya berkisar 9,87%.   Padahal tahun 1990  angka kemiskinan di pedesaan tercatat hanya 14,3% atau lebih kecil dari kemiskinan perkotaan yang 16,80%.  Bahkan angka kemiskinan di pedesaan lebih rendah daripada angka kemiskinan nasional saat itu yang mencapai 15,10% (MI, 19/2/2011). Dengan mengerek pendapatan warga menjadi pisau tajam memutus lingkaran setan kemiskinan (vicious circle of poverty).
            Kedua, sinergikan potensi. Terletak di jalur utama menuju Obyek Wisata Mata Air Cokro (OMAC) Tulung yang di-branding sebagai  ikon pariwisata Klaten dan berdekatan dengan Desa Wisata Kuliner yaitu Desa Janti, Polanharjo, pasca renovasi Pasar Cokro Kembang menarik untuk dikunjungi sekedar berburu buah tangan dan  produksi unggulan lokal. Sinergisitas renovasi Pasar Cokro Kembang dipadukan potensi Desa Kuliner dan OMAC Tulung begitu prospektif digarap serius mengembangkan sector ekonomi berbasis pariwisata. 
Ketiga, menjaga kearifan lokal.  Dibalik stigma kesederhanaan pasar tradisional, kita mentradisikan budaya sapa wanuh (menyapa dan mengenal) yang kian memudar. Kebiasaan tawar menawar harga, menyapa dan mengenal adalah merajut benang-benang silaturakhim yang sulit ditemukan di pasar modern. Dinamika interaksi  di pasar tradisional mampu menjadi media perekat keutuhan lokal bersamaan ekonomi desa yang menggeliat. 
            Pemberdayaan pasar tradisional menjadi awal baik membangun ekonomi pedesaan yang perlu didorong dan bukan dijadikan program sesaat.  Adanya regulasi dan pemihakan pemerintah adalah upaya mendesak agar pasar tradisional tidak jatuh bertumbangan.
Joko Priyono S.Sos, Mahasiswa   Megister Ekonomi dan
Studi Pembangunan UNS, Pranata Humas Pemkab Klaten.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar